Subcision untuk Melepaskan Jaringan Parut
Subcision menggunakan jarum atau instrumen khusus yang dokter masukkan ke bawah permukaan kulit. Dokter menggerakkan instrumen tersebut untuk memutus jaringan fibrotik yang menarik dasar bopeng.
Setelah jaringan terlepas, permukaan kulit memiliki kesempatan untuk terangkat. Proses penyembuhan setelah tindakan juga dapat merangsang pembentukan jaringan kolagen baru.
Namun, subcision konvensional terutama berfokus pada pemutusan jaringan. Area yang sudah terlepas berpotensi mengalami perlekatan kembali selama proses pemulihan apabila ruang di bawah kulit tidak mendapat dukungan yang memadai.
Gas-Assisted Separation dengan CO2
Dalam pendekatan tertentu, dokter dapat mengombinasikan subcision dengan gas karbon dioksida atau CO2. Gas membantu menciptakan ruang di bawah kulit dan membentuk gelembung mikro yang memisahkan jaringan parut dari jaringan di sekitarnya.
Pendekatan ini bertujuan untuk:
- Membuka ruang di bawah bopeng secara lebih merata
- Membantu memisahkan jaringan parut
- Mengurangi kebutuhan gerakan mekanis berulang pada area yang sama
- Mendukung proses pelepasan jaringan setelah subcision
Scaffolding untuk Menjaga Ruang di Bawah Kulit
Setelah dokter melepaskan jaringan parut, area tersebut memerlukan penopang agar jaringan tidak mudah menempel kembali. Konsep scaffolding berfungsi menyediakan struktur atau dukungan sementara pada ruang yang telah terbentuk.
Dokter dapat mengombinasikan prosedur dengan bahan pengisi, collagen stimulator, atau metode lain sesuai kondisi kulit. Tujuannya bukan membuat wajah terlihat penuh secara berlebihan, melainkan menopang dasar bopeng dan mendukung pembentukan jaringan baru.
Dengan demikian, kombinasi modern dapat mencakup:
- Subcision untuk melepaskan jaringan
- Gas-assisted separation untuk membantu membuka ruang
- Scaffolding atau volumization untuk menopang area cekung
- Stimulasi kolagen untuk memperkuat struktur kulit secara bertahap