Ketika jerawat di hidung dipencet, kulit dan jaringan di bawahnya mengalami trauma. Bakteri yang tadinya hanya berada di permukaan kulit atau di dalam pori-pori bisa terdorong masuk lebih dalam. Bakteri tersebut kemudian berpotensi masuk ke pembuluh darah dan mengalir naik menuju otak tanpa ada hambatan mekanis dari katup vena. Beberapa risiko nyata dari kebiasaan memencet jerawat di hidung antara lain:
Memperparah Peradangan
Memencet jerawat di hidung dapat mendorong isi jerawat masuk lebih dalam ke jaringan kulit, bukan keluar sepenuhnya. Hal ini membuat peradangan semakin parah sehingga jerawat menjadi lebih merah, bengkak, besar, dan nyeri. Selain itu, trauma akibat tekanan dapat menghambat proses penyembuhan, bahkan membuat jerawat kecil berkembang menjadi luka, koreng, atau benjolan yang lebih sulit diatasi.
Meningkatkan Risiko Infeksi
Kuku dan tangan yang tidak steril dapat membawa bakteri ke luka jerawat yang terbuka saat dipencet. Kondisi ini dapat memicu infeksi dengan gejala seperti nyeri berdenyut, pembengkakan bertambah, kulit hangat, kemerahan meluas, dan keluarnya nanah. Dalam kasus tertentu, jerawat bisa berkembang menjadi abses. Penggunaan alat tajam juga berisiko memperdalam luka. Selain itu, benjolan di hidung belum tentu jerawat biasa, karena bisa saja merupakan infeksi seperti vestibulitis nasal.
Menimbulkan Bekas Jerawat
Tekanan saat memencet jerawat dapat merusak jaringan kulit dan meningkatkan risiko munculnya noda hitam (hiperpigmentasi pascainflamasi) setelah jerawat sembuh. Pada kondisi yang lebih parah, dapat terbentuk jaringan parut atau bopeng, terutama pada jerawat besar seperti nodul atau kista, atau jika jerawat sering dipencet dan korengnya dikelupas. Hal ini dapat meninggalkan bekas permanen pada kulit.